
Post Loncat..
Senin, 1 September, 2008Page 1: Night at Metropulutant City
Di malam terakhir bulan Sya’ban ini, saiia ke Jakarta. Dinginnya udara (karena AC, bukan alami), hujan, petir, dan kemacetan di gerbang tol mewarnai perjalanan saiia menembus gelapnya malam Jakarta..
Lampu-lampu jalan yang bersinar terang (ya iyalah terang, jarak antar tiang cuma 1 meter), papan reklame dan merek-merek di atas mal menambah semarak warna kota “metropolutan” yang tidak pernah tidur ini..
Tapi jujur aja, dari segala warna dan cerita yang ada di Nitelife Jakarta ini, entah kenapa yang paling saiia tunggu adalah lewat di lampu merah depan ITC Cempaka Mas..
Ehm, traffic-light nya ndak special sama sekali atau apa. Tapi kehadiran para waria-lah yang…..
Hhaha.. please jangan mikir yang macem-macem tentang itu. Saiia ndak ada apa-apa dengan para waria.. Cuma mau nyambungin dengan apa yang akan saiia tulis selanjutnya di page 2.. =>
Page 2: Ramadhan v.s
Kalo saiia bilang “banci, bencong, bencés, atau waria”, pasti yang tergambar adalah para pria yang (berusaha) menyerupai wanita. Entah di lampu merah atau di televisi..
Ya, televisi. Benda kotak (masih kotak, belum ada yang bulat setau saiia.. Mungkin ada yang mau bikin?) yang menjadi destination favorit bagi anak-anak untuk mengisi waktu luangnya, apalagi di hari-hari libur seperti sekarang ini.
Waria seakan menjadi pilihan para pemilik program untuk menambah minat pemirsa TV. Para pria [di TV, pemeran waria biasanya pria tulen (punya istri+anak), jarang yang waria beneran] itu didandani dan diarahkan untuk berlaku seperti wanita.
Di bulan Ramadhan ini, KPI mengkritik penayangan sosok banci di berbagai tayangan sahur dan buka puasa..
Memang, seakan-akan sejak puluhan tahun terakhir (sorry, hiperbol..), setiap bulan Ramadhan hampir semua stasiun TV menyiarkan tayangan yang hampir serupa, selalu tontonan yang penuh komedi..
Jujur aja, saiia sudah males dengan semua “lawakan basi” itu. Seakan-akan, dengan anehnya, selama bertahun-tahun semua stasiun TV tidak punya pembaharuan konsep untuk acara sahur dan buka. Semua lelucon yang dihadirkan terasa “garing” dan “gajebo”. Lawak slapstick, konyol, menertawakan kekurangan orang lain, membodoh-bodohkan diri sendiri dkk ntu harusnya sudah diminimalisir di bumi ini..
Jadi daripada kita nonton acara yang “sudah tidak lucu lagi” (berarti dulu lucu, yaa..), nonton PPT 2 yuk u/k sahur en nonton Adzan Maghrib u/k buka puasa..
Wkwkwk…..


page….
low low………..