Postingan ini adalah bagian dari cerita berantai – ‘cer-ai’ (chain blog posting) komunitas blogger Bogor (Blogor) yang kali ini bertemakan kota Bogor. Peserta cer-ai kali ini terbagi kedalam dua golongan, golongan hitam (sisi negatif kota Bogor) dan golongan putih (sisi positif kota bogor). Kebetulan saya termasuk ke dalam golongan putih beserta rekan-rekan yang lain sebagai penulis cerita ke-2 setelah Kang Bugi Sumirat (baca di sini untuk posting dari kang Bugi), dan akan dilanjutkan oleh Pak Matrisoni (!!), Kang Fajar, Kang Alif Ontohod, Pak WKF, Kak Insan ‘Pay’ Luthfi, Kang Harris Maulana, Kang Irvan dan Bunda Defidi. Informasi lengkap mengenai cer-ai ini bisa dilihat di Blogor.org. Selamat menikmati.
Btw, tulisan pembuka yang di atas adalah copy-paste dengan perubahan dari paragraf pembuka di postingan pertama Cerita Berantai ini milik kang Bugi.. Yaa daripada stuck ga jadi-jadi karena saya galau mau nulis apa di pembukaan kan
Mudah-mudahan diizinkan sama Kang Bugi
*****
Ok, lebay ga sih judulnya? Ah, nggak kali ya.. Coba deh bayangin ngga ada kebun raya di Bogor, pasti tanah seluas 80 hektar itu udah dibuat jadi jalan untuk 3400-an unit angkot (!) dan lahan buat mall dan factory outlet yang makin menjamur di kota hujan kita ini..
Udara bersih adalah kebutuhan semua orang. Bahkan ngga cuma orang, binatang dan tumbuhannya sendiri pun pasti memerlukan udara bersih. Berkah yang diberi Tuhan secara gratis itu lambat-laun kian berharga dengan banyaknya pembangunan yang tidak memerhatikan unsur kelestarian alam, sehingga udara kotor tidak memiliki filter untuk didaur ulang menjadi udara bersih. Keadaan ini dengan jelas terjadi di Ibukota Jakarta dan kota-kota penopangnya.
Di Kota Bogor, Kebun Raya bagai oase di tengah padang pasar (bukan padang pasir
). Saya pernah masuk kebun raya setelah berjalan kaki sepanjang trotoar dari seberang SMA Negeri 1 Bogor sampai ke pintu utama selatan di depan Pasar Bogor. Jaraknya ngga terlalu jauh (eh iya ga sih?), tapi dengan udara pagi yang agak terik karena terlalu cerahnya hari itu, ditambah melewati pedagang-pedagang sayur yang baru selesai menjajakan dagangannya sehingga meninggalkan sampah-sampah segar yang cepat membusuk, jadi ya memang agak keringetan. Tapi ketika masuk ke Kebun Raya, saat itu saya merasa bagai masuk ke dunia lain, dunia penuh oksigen (halah!), hanya dengan tiket Rp10.000,-
Tapi nggak cuma ngandelin Kebun Raya, Bogor juga punya banyak bibit-bibit oksigen di mana-mana. Beneran deh, akan lebih susah untuk ga liat pohon daripada ngeliat pohon kalau di Bogor. Khususnya di sepanjang jalan Pajajaran arah Warung Jambu dan di Jalan Pemuda, pedagang tanaman hias memang dikerahkan dan diarahkan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor untuk ‘berjejer’, sehingga terjadi mutualisme antara semuanya, pedangang, pemkot, kita, dan tanaman-tanaman itu sendiri.
Dengan 14000 spesimen hidup yang ada di KRB dan ribuan tanaman hijau yang ada, saya ga bisa bayangin darimana lagi kita memasok kebutuhan oksigen dan siapa yang akan menetralisir semua gas berbahaya yang ada di udara saat ini. Ibukota Jakarta terus menggalakkan gerakan untuk memenuhi kebutuhan warganya akan ruang hijau terbuka (yang tidak pernah bisa maksimal karena pembangunannya selalu lebih lambat daripada mall dan estates), Tangerang dengan cepatnya berubah menjadi kota industri, Bekasi saya tidak tau persis keadaaannya tapi yang saya baca berdasarkan artikel ini Bekasi hanya memiliki anggaran dana 1,3 milyar untuk perawatan taman kota dan beberapa taman yang sudah ada justru tidak terawat. Sementara kota Depok, well, masih bisa mejadi paru-paru cadangan karena adanya hutan UI dan mulai banyaknya tanaman-tanaman hias di pinggir jalan. Nah, dari semua kota-kota penopang Ibukota, mungkin tinggal Bogor yang bisa jadi tumpuan kita untuk bernapas dalam arti yang sebenarnya.
Blogor, April 2010, KRB
10-8, November 2009, KRB
Bogor memang sudah tidak lagi sedingin dulu, sekarang jam 7 pun sudah mulai terasa gerahnya. Tapi coba kalau kita tidak punya kebun raya, mungkin lebih pagi lagi bisa lebih panas lagi.
Yaa, Alhamdulillah ada Bogor
*napas banyak-banyak*
sok mangga dilanjut, Pak Matrisoni….







